Home  >  Journal  >  FASHION  >  Alexander Wang Mundur Dari Posisi CEO

FASHION

Alexander Wang Mundur dari Posisi CEO


"In a rapidly changing retail environment, it’s necessary for us to continually challenge the status quo. In my year as CEO I’ve been able to reflect and assess the strengths and opportunities of the company and set the stage for future growth." - Alexander Wang

Perubahan pola berbelanja pada era digital membuahkan banyak fashion brand yang akhirnya tutup toko atau berganti kepemilikan. Untuk itu, para pemilik brand harus bisa mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Hal ini disadari betul oleh Alexander Wang, yang baru saja mengundurkan diri dari posisi CEO brand Alexander Wang.

 

Awalnya pada pertengahan tahun 2016, pria berambut panjang ini sengaja naik menjadi CEO untuk bisa menstabilkan penjualan brand tersebut yang terus turun. Selain itu, perubahan pola berbelanja konsumen membuatnya mulai mengembangkan bisnis ke arah digital. Ia juga merubah pola penjualan melalui fashion show, salah satunya dengan menjual langsung seluruh koleksi yang ditampilkan pada New York Fashion Week.

 

Setelah fashion show, koleksi langsung tersedia pada 4 toko offline mereka di New York, London, Beijing, dan Shanghai. Penjualan seluruh label Alexander Wang dan T by Alexander Wang juga difokuskan pada penjualan toko online dan 20 toko partner di seluruh dunia. Menurut pria kelahiran Beijing ini, cara tersebut lebih efektif ketimbang membuka toko offline baru di luar negeri.

 

Penjualan wholesale disinyalir masih menjadi kekuatan utama bagi lini T by Alexander Wang. Lini yang menjual koleksi pakaian wanita, pria, aksesoris, dan koleksi yang terbuat dari bahan kulit ini terjual pada 700 poin di seluruh dunia. Menurut Business of Fashion, lini ini menjadi salah satu alasan utama brand Alexander bisa bertahan. Bahkan pada 2016 diperkirakan revenue kedua brand mampu mencapai $150 juta dengan 300 karyawan di seluruh dunia.

 

Pada tahun yang sama, mantan CEO Balenciaga ini menyatakan ingin fokus ke dunia digital sehingga tidak harus menutup tokonya yang tidak berjalan. Dunia digital rupanya menjadi kunci utama dalam membangkitkan penjualan. Keinginan ini rupanya membuat Alexander kembali berpikir ulang mengenai strategi yang dijalankan, salah satunya mundur dari jabatan CEO.

 

Posisi ini kemudian diisi oleh Lisa Gresh, mantan pemimpin GOOP dan Martha Stwewart Omnimedia. Selain mengganti posisi CEO, Alexander juga memasukkan beberapa orang penting lainnya seperti Stephanie Horton, mantan Chief Marketing Officer Marketplace Farfetch untuk menjadi Chief Strategy Officer. Pada posisi jajaran direktur, Alexander memasukkan Tom Florio, mantan Eksekutif Condé Nast serta Jonathan Miller, mantan News Corp dan AOL.

 

Bila diperhatikan, semua orang yang dipilih Alexander merupakan para profesional dalam bidang digital. Hal ini menunjukkan kesungguhannya dalam mengembangkan bisnis pada dunia tersebut. Dikutip dari Business of Fashion, ia berharap para profesional dalam bidang digital ini mampu mengembangkan perusahaannya.

 

Ia juga mengungkapkan, “In a rapidly changing retail environment, it’s necessary for us to continually challenge the status quo. In my year as CEO I’ve been able to reflect and assess the strengths and opportunities of the company and set the stage for future growth. Lisa and Stephanie’s diverse backgrounds in the media, lifestyle and digital landscape will help us continue to position the business to expand into new categories and territories,” tutupnya. (Aulia DH) 


Share On: